Jaringan Perempuan Pesisir Sulawesi Tenggara mengadakan diskusi publik dengan tema “Peran Komunitas dalam Pemajuan Seni Budaya di Sulawesi Tenggara” di Café Rupa Kota Kendari (02/08). Acara ini dihadiri oleh mahasiswa yang memiliki minat dalam seni dan budaya dari Universitas IAIN Kendari, Muhammadiyah Kendari, Universitas Haluoleo Kendari, serta sejumlah seniman lokal Kendari.
Diskusi dimoderatori oleh Asidin La Hoga, yang memandu jalannya acara dan mengarahkan fokus pada peran strategis komunitas dalam memajukan seni dan budaya lokal, dengan menghadirkan Laode Muhammad Aksa, Kepala Unit Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah XIX sebagai pembicara utama
Laode Muhammad Aksa, menyoroti pentingnya pelestarian budaya pesisir di Sulawesi Tenggara. Budaya pesisir di Sulawesi Tenggara menunjukkan kekayaan dan keberagaman yang signifikan, mencakup tradisi yang telah ada sejak zaman prasejarah hingga kini.
Sejak zaman prasejarah, budaya maritim Sulawesi Tenggara telah hidup dan berkembang. Lukisan perahu di Gua Muna, yang berasal dari era prasejarah, merupakan bukti awal adanya interaksi dengan laut yang intensif. Aksa menegaskan bahwa budaya pesisir di daerah ini memiliki tradisi yang kuat dan unik, yang tidak hanya mencakup praktik-praktik lokal tetapi juga interaksi dengan budaya lain, seperti budaya Islam melalui musik gambus di Wakatobi.
Salah satu aspek menarik yang diungkapkan oleh Aksa adalah pertukaran budaya yang terjadi melalui pesisir Pasifik. Budaya Austronesia, yang menyebar menggunakan perahu cadik, menunjukkan adanya pertukaran budaya yang luas dari Sulawesi Selatan hingga Taiwan. Elemen budaya seperti bahasa Austronesia dan kata “Meti,” yang berarti air surut, mencerminkan bagaimana budaya pesisir telah menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Papua dan Filipina.
Laode Aksa juga menyoroti pentingnya bahasa dan tradisi yang terkait dengan bahasa “biji kenari dan sukun” sebagai indikator persatuan budaya pesisir sejak zaman kuno. Ia menekankan bahwa interaksi budaya melalui pesisir, sungai, dan laut telah berlangsung lama.
Kehancuran Kota Lama Kendari
Ia mengungkapkan keprihatinan mengenai penghancuran warisan budaya di Teluk Kandai, Kendari. Kandai berasal dari kata budaya maritim, menandakan alat transportasi laut kuno yang menjadi cikal bakal nama kota Kendari. Namun, penggusuran kota lama Kendari telah mengakibatkan hilangnya nilai sejarah yang penting bagi kota tersebut.
Menurut Aksa, lokasi di Teluk Kandai, yang dulunya salah satu tempat berdirinya rumah sakit pertama di Sulawesi Tenggara, kini telah digusur dan diubah menjadi Puskesmas. Transformasi ini telah menghapus nilai sejarah yang melekat pada lokasi tersebut, yang seharusnya menjadi bagian penting dari warisan budaya Kendari.
Aksa membandingkan situasi di Kendari dengan pendekatan yang diterapkan di kota-kota Belgia, di mana pelestarian kota lama dilakukan secara seimbang dengan pembangunan kota baru. Di Belgia, kota-kota lama sering kali dipreservasi dan diubah menjadi tempat-tempat menarik seperti café coklat dan hotel, yang tidak hanya menarik pengunjung tetapi juga mempertahankan warisan budaya yang kuat.
Aksa juga menyoroti hilangnya elemen-elemen bersejarah seperti pelabuhan Raha, yang merupakan pelabuhan tua sejak zaman Belanda pada tahun 1854 di Kota Kendari. Kampung Kandai yang sebelumnya berada di area tersebut juga telah lenyap. Perubahan nama dan fungsi dari kota lama ke kota baru mencerminkan pengabaian terhadap sejarah lokal.
Aksa juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap banyak elemen bersejarah lainnya yang telah hilang, seperti bioskop lama dengan desain arsitekturnya. Menurutnya, transformasi kota sering kali mengabaikan nilai estetika dan historis. Lalu memunculkan kemacetan dan kesemrawutan serta kehilangan identitas sejarah yang penting bagi kota Kendari.
Aksa menegaskan bahwa pembangunan di Kendari seharusnya tidak mengabaikan warisan dan sejarah yang ada. Ia menggarisbawahi pentingnya mempertimbangkan pelestarian warisan budaya dalam proses pembangunan, agar kota tetap dapat menjaga kekayaan sejarah dan identitasnya sambil terus berkembang.
Dukungan Pemerintah Untuk Pelestarian Kebudayaan
Dalam diskusi publik yang diadakan di Café Rupa, Aksa menjelaskan bahwa program tahun ini memberikan dukungan kepada hingga 60 komunitas dan individu yang berkomitmen untuk melestarikan dan memajukan warisan budaya lokal.
Program ini bertujuan untuk memperkuat upaya pelestarian budaya dengan memberikan fasilitas dan sumber daya yang diperlukan oleh komunitas seni. Aksa mendorong para penggiat budaya untuk menyusun proposal yang akan dipertimbangkan untuk mendapatkan dukungan. Dukungan ini meliputi berbagai bentuk bantuan, mulai dari pendanaan untuk kegiatan pelestarian, penyelenggaraan festival, lomba, ceramah, seminar, hingga produksi film dokumenter yang dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang budaya lokal.
Aksa menekankan pentingnya keterlibatan aktif dari masyarakat dalam proses pelestarian budaya. Menurutnya, keberhasilan pelestarian tidak hanya bergantung pada inisiatif pemerintah tetapi juga pada partisipasi dan dukungan dari para pewaris budaya itu sendiri. Upaya pelestarian yang efektif memerlukan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan individu yang memiliki komitmen untuk menjaga dan meneruskan nilai-nilai budaya.
Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan bahwa warisan budaya yang kaya dan beragam di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara tetap hidup dan relevan untuk generasi mendatang. Dengan adanya dukungan ini, diharapkan akan ada lebih banyak inisiatif yang mempromosikan pelestarian dan pengembangan seni dan budaya lokal, serta meningkatkan apresiasi terhadap kekayaan budaya yang dimiliki oleh kedua wilayah tersebut.
Bagi komunitas dan individu yang tertarik, Aksa menyarankan agar segera menyusun proposal dan mengajukannya untuk memanfaatkan peluang dukungan dari program BPK ini. Dengan demikian, mereka dapat berkontribusi pada pelestarian budaya dan memperkaya kehidupan budaya di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.