22 Agustus 2024

Pidato Kebudayaan Sulawesi Tenggara 2024 : Kata Berbudaya

Ari Ashari Pidato Kebudayaan di Gedung Kesenian Sulawesi Tenggara

Jaringan Perempuan Pesisir Sulawesi Tenggara menggelar sebuah acara di ruang kesenian, Taman Budaya Sulawesi Tenggara. Salah satu bentuk kegiatan untuk mendengarkan permasalahan kebudayaan di Sulawesi Tenggara melalui pidato kebudayaan yang disampaikan oleh Ari Ashari, Penggiat Kebudayaan Sulawesi Tenggara. Acara ini dilaksanakan berkat kerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Dana Indonesiana, dan LPDP.

Berikut isi Pidato Kebudayaan Ari Ashari :

Salam sejahtera untuk kita semua yang hadir dalam Ruang Kesenian Taman Budaya Sulawesi Tenggara ini.

Sebuah tantangan diberikan, dan tantangan itu saya terima dari Perempuan Pesisir Sulawesi Tenggara. Meskipun saya tidak terlalu paham dalam menyampaikan pidato kebudayaan ini, saya menerima tantangan ini semata-mata karena tanggung jawab.

Kesenian adalah sektor penting dalam kebudayaan dan dapat dijadikan contoh untuk melihat masalah yang lebih besar, yaitu hubungan kebudayaan, komunitas, dan pemerintah. Saya ingin mengatakan bahwa kesenian adalah ekspresi yang sangat personal dari seniman. Tentu saja, para seniman menerima pengaruh dari lingkungan hidupnya dan terlibat dalam berbagai pergolakan di masyarakat. Setiap lingkungan mungkin saja memberikan pengaruh terhadap seniman.

Saya ingin mengatakan bahwa saya tidak ingin rumah saya ditembok di semua sisi dan jendela-jendela saya. Saya ingin budaya seluruh negeri tersebar secara bebas di rumah saya. Namun, saya menolak untuk terpesona oleh siapapun. Saya menolak tinggal di rumah orang lain sebagai pengemis atau budak. Tidak jauh dari saya, kita harus menjadi penghalang yang tegak. Apresiasi terhadap budaya lain, namun tidak pernah mendahului apresiasi terhadap budaya kita sendiri.

Saya meyakini bahwa tidak ada budaya yang sekaya Indonesia, apalagi jika dibandingkan dengan budaya Eropa dan budaya Amerika. Kadang-kadang kita terbuai, bahkan kita mencelahnya dan merendahkan nilainya. Mungkin kita paham secara akademis tanpa tahu apa yang ada di baliknya. Bagaikan mayat yang dibalsem, mungkin indah dilihat, namun tidak menginspirasi atau memuliakan.

Agama saya mengajarkan untuk tidak mengabaikan budaya, karena agama saya mengajarkan kemuliaan manusia.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan kemudian menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Penyayang.” (Surat Al-Hujurat Ayat 13)

Budaya kita, budaya Indonesia adalah sebuah sintesis. Kata ini merupakan sintesis dari budaya yang telah ada di Indonesia, yang telah mempengaruhi kehidupan orang Indonesia. Pada giliran berikutnya, sintesis ini secara alami menjelma menjadi “berdiri di kaki sendiri”, kata Bung Karno. Di mana setiap budaya sebuah entitas yang mandiri dan khas.

Kebudayaan di Indonesia merupakan percampuran budaya-budaya yang berbeda-beda dan beragam. Sama halnya di Bumi Anoa ini, dipengaruhi oleh geografis dan lingkungannya. Budaya-budaya tersebut bertemu. Dengan demikian, kebudayaan Moronene tidak sama dengan Tolaki, Buton, Muna, Bugis, Jawa, Bali, Sunda, dan lain-lain. Namun, dipengaruhi oleh kondisi kampung masing-masing.

Begitu pun budaya Indonesia berbeda-beda, setiap orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia wajib untuk menghargai budaya lain, menjadi pelindungnya, dan menolak serangan apapun yang akan menghancurkannya.

Kebudayaan Indonesia saat ini sedang berkembang. Banyak di antara kita berusaha untuk menghasilkan perpaduan budaya yang tampak saling bertentangan. Tidak ada budaya yang bisa hidup, jika ada yang berusaha menjadi eksklusif. Tidak ada budaya murni di Indonesia ini, apakah bahasa Jawa, Bugis, Moronene, Tolaki, Buton, Muna, dan Sunda. Namun itulah bentuk penduduk asli Indonesia.

Apa yang menarik perhatian saya adalah kenyataan bahwa nenek moyang saya bersatu satu sama lain dalam kebebasan sepenuhnya dan kita adalah generasi sekarang, hasil dari perpaduan itu. Apakah kita akan berbuat baik untuk negara kita ? Ataukah kita hanya menjadi beban ? Masa depanlah yang menentukan itu semua.

Entah budaya yang berbeda-beda, hidup bersama dalam kehidupan, telah menghasilkan perpaduan budaya yang indah. Apakah kita akan perjuangkan untuk melestarikan? Ataukah kita akan menuju ke masa silam, di mana hanya ada satu budaya eksklusif yang harus dilestarikan untuk mewakili bangsa ini ?.

Mungkin kita dapat bertukar sejarah seperti itu, kita akan mengembalikan budaya masa lampau, tetapi akan mendapatkan kutukan dari alam. Saya tidak ingin mengulang masa silam. Kadang-kadang ada yang mengatakan lebih paham budaya:

Atas nama budaya, penduduk sah dan tunggal.
Atas nama budaya, lebih paham negeri ini.
Atas nama budaya, dirinyalah penguasa di atas kuasa.

Dan sesungguhnya, dia adalah orang yang tidak paham. Lihatlah orang-orang yang setiap hari menjejerkan ikan di pasar tradisional, tidak ada istilah eksklusivitas, mereka sangat terbuka dan jujur. Di tempat yang sama, kita tidak akan mencium parfum dengan merek termahal, karena aroma ikan ternyata lebih harum di indera penciuman kita.

Saya ingin menutup dengan kutipan puisi dari WS Rendra berjudul “Ketika Udara Bising”:

Apakah artinya yang ditulis di pasir?
Apakah artinya pegangan yang hanyut di air?
Apakah artinya tatawarna dari naluri rendah kekuasaan?
Apakah artinya kebudayaan plastik dan imitasi ini?

Terima kasih.

Loading...