28 Maret 2024

Ekofeminisme Untuk Pariwisata Berkelanjutan Di Soropia

Jaringan Perempuan Pesisir (JPP) Sulawesi Tenggara (ST) memperingati Hari Perempuan Internasional atau International Women Day (IWD) dengan mengadakan kegiatan bertema “Green Ramadhan” di Kampung Mekar, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe pada tanggal 26 Maret 2024. Acara ini terlaksana atas kerjasama JPP dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan RI, Dana Indonesiana, dan LPDP.

Kegiatan ini tidak hanya diisi dengan buka puasa bersama, tetapi juga materi edukasi tentang ekofeminisme untuk pariwisata berkelanjutan. Hal ini dilakukan mengingat lokasi pertemuan merupakan destinasi wisata yang potensial dengan adanya Pantai Toronipa dan Pulau Bokori serta Pulau Hari.

“Kami ingin mengajak para perempuan pesisir untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mengembangkan pariwisata berkelanjutan di daerah ini,” ujar Ketua JPP Sulawesi Tenggara, Mutmainna saat pembukaan acara. “Ekofeminisme memberikan perspektif untuk menghubungkan hak-hak perempuan dan perlindungan alam”.

Materi tentang ekofeminisme disampaikan oleh Yuli, seorang jurnalis berpengalaman meliput isu ekofeminisme di Sulawesi Tenggara. Yuli aktif sebagai kontributor media Multatuli Project dan Kendari Pos saat ini. Pemateri kedua terkait peran perempuan dalam pariwisata dibawakan oleh Syamsiar, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara.

Yuli mengawali dengan menyoroti pentingnya ekofeminisme dalam upaya melindungi alam dan hak-hak perempuan. “Ekofeminisme mengingatkan kita bahwa alam bukan hanya sumber daya untuk dieksploitasi, tetapi juga bagian integral dari kehidupan manusia dan semua makhluk hidup. Filosofi orang Molo ‘batu adalah tulang, air adalah darah, tanah adalah daging’, situasi menggambarkan hubungan manusia dengan alam yang harus kita jaga.” Ujar Yuli.

Ia menjelaskan bahwa ekofeminisme hadir untuk menegaskan bahwa hak-hak perempuan dan perlindungan alam saling terkait erat dan tidak dapat dipisahkan. “Perempuan sering kali terpinggirkan dalam pengambilan keputusan terkait lingkungan. Suara mereka diabaikan”.

Ia mencontohkan kasus di Pulau Wawonii, di mana para perempuan memprotes tambang yang telah merusak tanah dan sumber air. “Kerusakan lingkungan berdampak lebih besar pada perempuan. Kebanyakan perempuan sering kali bertanggung jawab atas tugas-tugas seperti pengumpulan air, pertanian, dan pengasuhan anak. Perempuan lebih rentan terhadap dampak kerusakan lingkungan.”

Ekofeminisme juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di rumah tangga. “Ekofeminisme di rumah tangga dapat membantu kita menjaga alam dan memberdayakan perempuan,” ujar Yuli. “Dengan menerapkan prinsip-prinsip ekofeminisme di rumah, kita dapat memberikan kontribusi nyata untuk lingkungan yang berkelanjutan.”

Yuli membagikan beberapa tips untuk menerapkan ekofeminisme di rumah tangga yakni pertama, hemat energi dengan matikan lampu dan elektronik saat tidak digunakan, cabut colokan peralatan elektronik yang tidak digunakan agar hemat energi. Kedua, hemat air dengan mandi seperlunya, matikan keran air dan gunakan air hujan untuk menyiram tanaman. Ketiga, kurangi sampah dengan gunakan barang-barang yang dapat digunakan kembali, seperti kantong kain dan botol air minum, hindari penggunaan plastik sekali pakai, dan pilah sampah rumah tangga. Keempat, ajarkan Anak-anak tentang Ekofeminisme dengan mengajak anak-anak beraktivitas di alam dan ceritakan tentang pentingnya menjaga lingkungan serta mengajarkan anak tentang hak-hak perempuan.

Salah satu liputan Yuli yang dijadikan contoh terkait ekofeminisme di Buton Tengah. Para perempuan melestarikan laut dengan cara perempuan aktif dalam sosialisasi dan kampanye, mengajak masyarakat untuk menghentikan praktik bom ikan dan penggunaan jaring yang tidak ramah lingkungan. Kedua, Perempuan memberdayakan ekonomi keluarga dengan cara menjual ikan hasil tangkapan suami dan mengolah produk ikan, sehingga meningkatkan pendapatan keluarga. Ketiga, Perempuan meningkatkan kesadaran lingkungan dengan cara mendidik anak-anak tentang pentingnya menjaga laut dan lingkungan.

Konsep ekofeminisme sangat penting dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan di wilayah Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Yuli mengungkapkan sektor pariwisata memiliki kontribusi yang signifikan terhadap APBD Sulawesi Tenggara sebesar 13% saat ini. Potensinya sangat besar dan harus dioptimalkan dengan cara yang berkelanjutan dan inklusi.

Yuli menjelaskan bahwa ekofeminisme menawarkan solusi untuk mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan. Bagaimana ekofeminisme dapat diterapkan dalam pariwisata Soropia Konawe ?. Yuli mengungkapkan, pertama, melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan. Kedua, memberdayakan perempuan dalam ekonomi pariwisata. Ketiga, perempuan aktif mempromosikan budaya dan tradisi lokal. Keempat, melestarikan alam.

Syamsiar, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara, menambahkan tentang potensi wisata Desa Mekar Soropia, dalam mendorong pembangunan sektor pariwisata di Sulawesi Tenggara.

“Desa Mekar memiliki potensi wisata yang luar biasa. Desa ini terletak di kawasan wisata Bokori dan Toronipa, yang merupakan segi tiga khas Pulau Labengki dan menjadi prioritas pembangunan pariwisata Sulawesi Tenggara.” Ujar Samsiar

Syamsiar menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mengembangkan sektor pariwisata. “Masyarakat adalah kunci utama dalam pembangunan pariwisata,” katanya. “Oleh karena itu, kami mengajak masyarakat Desa Mekar untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam mengembangkan potensi wisata”

Syamsiar memberi contoh peran perempuan dalam pengembangan pariwisata bisa seperti membuat dan menjual kerajinan tangan dari bahan-bahan alami, seperti kain tenun, ukiran kayu, dan perhiasan dari kerang-kerangan. Kedua, menyediakan homestay dan akomodasi bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman tinggal di desa. Ketiga, memandu wisatawan ke tempat-tempat wisata menarik di Soropia dan menceritakan tentang budaya dan tradisi setempat. Keempat, Menyelenggarakan pertunjukan budaya dan seni tradisional untuk menghibur wisatawan. Kelima, Memasak dan menyajikan makanan hasil laut khas Soropia kepada wisatawan.

Taslim, Kepala Desa Mekar, Soropia, menggarisbawahi peran perempuan Bajo memiliki modal sosial yang menopang berbagai aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari kegiatan produktif, reproduktif, hingga sosial publik.

Ia menjelaskan bahwa perempuan Bajo Soropia aktif dalam kegiatan produktif. “perempuan Bajo aktif dalam menangkap dan menjual hasil laut, merawat dan membuat alat tangkap, serta melakukan pekerjaan lain yang menunjang ekonomi keluarga”, Kata Taslim. “Peran perempuan dalam menjaga kelestarian sumber daya laut dan meningkatkan kesejahteraan keluarga tidak dapat dipungkiri,”

Perempuan Bajo Soropia juga memiliki peran penting dalam kegiatan reproduktif. “para perempuan Bajo aktif dalam kegiatan seperti mengurus kebutuhan keluarga, meminjam modal usaha, dan menjaga kebersihan lingkungan.” tambah Taslim.

Di ranah sosial publik, perempuan Bajo Soropia pun aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan desa. “para perempuan paling banyak hadir dalam kegiatan musrembang desa dan pesta pernikahan” ujar Taslim.

Ekofeminisme menawarkan solusi untuk membangun pariwisata yang berkelanjutan. “Namun bagi perempuan Bajo Soropia hanya memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari saja, tetapi keterlibatan perempuan dalam pengembangan dan pengelolaan pariwisata masih sangat minim dan perlu ditingkatkan kedepantutup Taslim.

Loading...