18 Juli 2024

Afrizal Malna: Menelusuri Ekosistem Seni dan Kuratorial

Afrizal Malna dalam acara diskusi ekosistem seni dan kuratorial di Kota Kendari

Kota Kendari, 17 Juli 2024 – Perempuan Pesisir mengadakan diskusi mengenai ekosistem dan kuratorial di Café Rupa, Kota Kendari, yang dihadiri oleh seniman dan budayawan dari Sulawesi Tenggara. Diskusi ini dimoderatori oleh Irianto Ibrahim dari The La Malonda Institute, menghadirkan Afrizal Malna sebagai pembicara utama.

Dalam kesempatan ini, Afrizal Malna menekankan betapa erat kaitannya ekosistem seni dengan kuratorial. Menurut Malna, konsep ekosistem sering kali merujuk pada mekanisme alam di mana berbagai elemen saling berinteraksi dan terhubung, mirip dengan rantai makanan. Dalam konteks ekosistem seni, hubungan ini bisa menjadi sangat dominan dan berpengaruh, bahkan hingga mengarah pada situasi yang “fasis” dan sangat berpengaruh.

Malna juga mengungkapkan pentingnya mempertimbangkan aspek geohistoris dalam pengembangan kota seperti Kendari. “Jika pembangunan Kendari mengabaikan sungai dan teluk demi fokus pada daratan dan transportasi yang lebih cepat, kita berisiko merusak lingkungan yang telah ada. Hal ini bisa mengancam keberlangsungan kota Kendari, yang dulunya dianggap indah pada era kolonial,” ujarnya.

Afrizal Malna menjelaskan bagaimana sistem kolonial Belanda mempengaruhi infrastruktur dan ekosistem seni di Indonesia. Malna menyebutkan bahwa sistem yang diterapkan pada era kolonial sangat terstruktur dan sistematis, seperti yang terlihat di Porong, Sidoarjo, yang menjadi pusat perdagangan utama dengan banyak kantor dagang di sepanjang sungai Porong.

“Pada masa itu, Belanda memiliki keahlian dalam pembuatan peta dan pemahaman tentang potensi sedimentasi sungai. Sungai Porong yang kini merupakan sungai buatan Belanda adalah contoh bagaimana Belanda menangani masalah sedimentasi yang tidak hanya disebabkan oleh aktivitas manusia tetapi juga oleh faktor alam,” ungkap Malna.

Malna juga menjelaskan bahwa Belanda membangun infrastruktur seni di berbagai kota besar yang menjadi basis pemerintahan mereka, seperti Makassar, Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Gedung kesenian yang didirikan berfungsi untuk mendukung perkembangan seni di wilayah-wilayah tersebut. Selain itu, pasar malam di Surabaya dan Bandung menjadi platform penting bagi produk kesenian masyarakat untuk dipamerkan dan dipasarkan.

Menurut Malna, meskipun negara Belanda menyediakan infrastruktur, ekosistem seni yang ada tidak sepenuhnya dikelola oleh negara. Mekanisme pasar memainkan peran utama dalam operasionalnya. Sebagai contoh, karya seni Raden Saleh yang dipamerkan di Eropa dan pertunjukan bantuan sosial serta bencana yang diadakan selama masa kolonial menunjukkan bagaimana seni telah berkembang pada era tersebut. Malna juga menyoroti bahwa perkembangan teater di Indonesia pada masa itu dipengaruhi oleh revolusi Rusia, dengan kelompok seni yang memiliki hubungan dengan Rusia.

Afrizal Malna mengungkapkan bagaimana pendudukan Jepang di Indonesia membawa perubahan signifikan pada ekosistem seni. Menurut Malna, selama era pendudukan Jepang, teater menjadi sangat populer karena tidak adanya film dan televisi, menjadikannya sebagai salah satu bentuk seni utama. Jepang mengalihkan ekosistem seni dari mekanisme pasar ke kendali negara, mendirikan sekolah-sekolah di Sukabumi, dan menggunakan propaganda untuk tujuan militer dengan klaim pembebasan Asia Timur dari penjajahan Barat.

“Selama periode ini, Jepang tidak hanya memperkenalkan media seni seperti kanvas dan minyak kepada pelukis Indonesia, tetapi juga melahirkan orang penting seperti Afandi, Sudjojono, Pramoedya Ananta Toer, Sudirman, Nasution, dan bahkan Suharto dalam waktu singkat,” ujar Malna.

Malna menegaskan bahwa kontribusi Jepang terhadap perkembangan seni rupa Indonesia sangat besar, namun ia juga mempertanyakan mengapa kita belum dapat sepenuhnya belajar dari pengalaman tersebut. Dengan adanya dua pendekatan ekosistem seni—versi Belanda yang dikelola oleh pasar dan versi Jepang yang dikendalikan oleh negara. Malna mengajukan pertanyaan mendasar: Haruskah kita menggabungkan kedua pendekatan tersebut untuk membangun ekosistem seni yang lebih profesional?. Malna menyoroti, hingga kini kita belum mampu membangun ekosistem seni yang profesional, bahkan di kota-kota besar seperti Jakarta.

Malna juga membandingkan dengan ekosistem seni di Eropa, yang berfungsi dengan baik berkat adanya struktur yang mendukung seniman secara menyeluruh. Di Eropa, penulis biasanya memiliki agen penerbit yang berperan sebagai perantara dan promotor. Agen ini membantu penulis dengan memfasilitasi partisipasi dalam festival, residensi yang memungkinkan tinggal gratis, dan workshop di kampus-kampus. Dukungan ini memungkinkan penulis tidak hanya bergantung pada pasar untuk penghidupan mereka, tetapi juga memperoleh pendapatan dari berbagai kegiatan yang mendukung kreativitas mereka.

Afrizal Malna mengungkapkan tantangan yang dihadapi seniman Indonesia terkait ekosistem seni, terutama dalam konteks dukungan dari galeri dan media cetak. Malna mencatat bahwa meskipun sistem dukungan seni rupa yang serupa diterapkan di Eropa—di mana para seniman biasanya dikontrak oleh galeri-galeri terkenal yang menyediakan studio dan fasilitas lainnya. Sistem semacam itu masih belum berkembang dengan baik di Indonesia. Di kota-kota besar seperti Shanghai dan Beijing, meskipun terdapat banyak orang yang minat terhadap lukisan Indonesia, tetapi pelukis Indonesia sering kali kesulitan mendapatkan dukungan yang memadai dari galeri lokal. Tanpa dukungan ini, pelukis menghadapi tantangan besar dalam mengelola dan mempromosikan karya mereka, yang berdampak pada kemampuan mereka untuk mencapai potensi penuh di pasar internasional.

Malna juga berbagi pengalaman pribadinya mengenai ekosistem media cetak. Dia menjelaskan bahwa dalam dunia media cetak, dia biasanya mengukur ekonominya sendiri dengan menghitung jumlah tulisan yang diperlukan untuk menutupi biaya hidupnya selama sebulan. Ketika media cetak mengalami krisis dan kebangkrutan, ini memberikan dampak serius pada kehidupannya karena ia bergantung pada media cetak sebagai sumber penghidupan.

Malna menegaskan pentingnya memahami posisi dan peran individu dalam konteks ekosistem yang lebih besar. Menurutnya, pertanyaan kunci dalam membangun ekosistem seni adalah: “Siapa kamu dan di mana kamu berada untuk memulai sebuah ekosistem?” Memahami posisi individu dalam ekosistem seni adalah langkah penting dalam mengembangkan sistem yang efektif dan berkelanjutan, baik dalam konteks dukungan galeri, media cetak, atau bentuk dukungan lainnya.

Afrizal Malna membagikan wawasan tentang bagaimana ekosistem seni budaya dan sosial di daerah Senen, Jakarta Pusat, telah membentuk identitas dan karya seninya. Senen, yang dibangun oleh Belanda hampir 300 tahun lalu, dikenal sebagai pusat perubahan di Jakarta. Daerah ini terdiri dari pasar tradisional, Planet Senen, Picinang, serta beberapa bioskop seperti Bioskop A, B, dan C, yang menampilkan berbagai jenis film dari film ninja hingga film cinta dan koboi. Selain itu, Teater Sunda juga menjadi bagian dari ekosistem budaya Senen. Rumah Malna, yang terletak tepat di belakang gedung-gedung tersebut, turut membentuk identitasnya sebagai seorang urban Jakarta.

Malna mengungkapkan bahwa ekosistem ini tidak hanya mencakup pasar dan gedung, tetapi juga akses ke toko buku penting dan toko buku bekas. Melalui akses ini, ia dapat membeli buku-buku Belanda tebal dan mesin tik peninggalan Belanda yang pertama kali digunakannya. Semua elemen ini, termasuk teknologi yang mulai muncul pada masa itu seperti mesin tik, fotokopi, dan mesin faks. Sementara ponsel belum ada waktu itu, untuk memengaruhi dan membentuk pandangannya sebagai seorang seniman.

Malna menekankan bahwa jangan perbandingan antara puisi-puisinya dengan karya penulis lain seperti Chairil Anwar, tetapi bagaimana puisi-puisinya dibandingkan dengan hal-hal yang lebih umum seperti Coca-Cola. Dia menjelaskan bahwa perspektif ini mencerminkan anomali yang memberikan wawasan baru tentang bagaimana ekosistem Senen mempengaruhi karya-karyanya. Ketika buku puisinya terbit pada tahun 1984, Malna melihatnya bukan hanya sebagai puisi pribadi, tetapi sebagai bagian dari buku puisi Indonesia yang mencerminkan pasar Senen dan pengaruh ekosistem tersebut pada karyanya.

Afrizal Malna menekankan pentingnya mempelajari metode Jepang dalam membangun ekosistem seni yang efektif. Menurut Malna, Jepang menerapkan metode “turun bawah” (turba) selama tiga tahun, yang kemudian diadopsi oleh LEKRA. Metode ini bertujuan untuk melahirkan kota-kota budaya baru yang mandiri dan tidak terpengaruh oleh sistem kolonial Belanda, serta dikenal saat ini sebagai sains spesifik.

Sebagai contoh penerapan metode ini, Malna menjelaskan bahwa Perempuan Pesisir Sultra telah mengundang seorang seniman untuk menjalani residensi di Teluk Kendari. Dalam residensi ini, seniman diharapkan untuk bekerja langsung di lokasi, mengajarkan metode dan teknik, serta memamerkan hasil karyanya di sana. Aktivitas ini berfokus pada interaksi langsung dengan komunitas dan lingkungan setempat, yang dikenal sebagai praktik saintifik. Pendekatan ini memberikan manfaat langsung kepada komunitas dan berkontribusi pada pengembangan ekosistem seni lokal.

Malna juga menyoroti bahwa seni modern sering kali bersifat egosentris, berfokus pada individualitas seniman. Meskipun ia terlibat dalam kelompok seperti Urban Poor Consortium (UPC) dan berpartisipasi dalam kerja kolektif selama beberapa tahun, ia mencatat bahwa perubahan menuju pendekatan yang lebih eko-sentris, yaitu bagaimana karya seni berinteraksi dengan lingkungan sosial masih langka di Indonesia saat ini.

Dalam konteks ini, Malna mengajukan pertanyaan mengenai perlunya kepemimpinan bersama dalam sebuah kolektif. Ia berpendapat bahwa kepemimpinan bersama mungkin diperlukan untuk menjaga keberlanjutan dan efektivitas ekosistem. Ia juga menekankan pentingnya memahami lokasi dan konteks di mana seseorang bekerja, termasuk potensi sosial, kultural, dan sumber daya. Menurut Malna, masalah literasi juga perlu dipetakan untuk merumuskan ekosistem seni secara menyeluruh, dengan pendekatan berkelanjutan dari skala kecil hingga besar.

Afrizal Malna menjelaskan bahwa peran kuratorial dalam ekosistem seni sangat krusial untuk menjaga dinamika dan inovasi. Dalam ekosistem seni, aspek pendukung seperti manajemen, pengorganisasian, dan pemetaan sangat penting. Namun, tanpa adanya kuratorial, ekosistem seni cenderung stagnan dan terjebak dalam zona nyaman, tanpa adanya perubahan atau tantangan baru.

Kuratorial berfungsi sebagai agen perubahan yang menciptakan tantangan-tantangan baru dalam ekosistem seni. Tugas utama kuratorial adalah mencari tema-tema terkini dan relevan untuk menghadapi tantangan baru. Dengan demikian, kuratorial mencegah ekosistem seni terjebak dalam rutinitas monoton dan tidak berkembang. Misalnya, kuratorial bisa mengajukan ide-ide inovatif seperti menciptakan puisi dari bahan-bahan yang tidak biasa—sebuah pendekatan yang dapat menantang konvensi dan memperluas batasan seni.

Fungsi kuratorial beroperasi pada tingkat wacana dan produksi pengetahuan, berbeda dengan juri yang hanya menilai karya seni tanpa berkontribusi pada produksi pengetahuan baru. Kuratorial tidak hanya fokus pada penilaian karya seni, tetapi juga terlibat dalam proses produksi karya seni dan pengetahuan yang lebih luas. Dengan kata lain, kuratorial berperan dalam menciptakan ruang untuk inovasi dan eksplorasi seni yang mendalam, memastikan bahwa ekosistem seni berkembang secara kreatif dan intelektual.

Afrizal Malna berbagi pengalaman tentang bagaimana festival seni dapat memperkaya ekosistem seni dengan menghadirkan berbagai jenis karya dan perspektif. Ia menguraikan beberapa contoh praktik kuratorial yang signifikan. Malna menggambarkan sebuah kota yang menyelenggarakan berbagai festival seni, termasuk film, sastra, tari, dan musik. Di bidang sastra, misalnya, terdapat 30 festival nasional yang berlangsung selama tiga bulan, dengan lokasi-lokasi yang bervariasi seperti gereja. Festival ini mengundang penulis dari berbagai latar belakang, mulai dari penulis buku terlaris hingga penulis yang kurang dikenal. Ini adalah contoh bagaimana praktik kuratorial memetakan dan menghadirkan berbagai karya seni, memberikan ruang bagi semua jenis karya untuk mendapatkan perhatian dan apresiasi.

Malna juga membahas festival seni di Jerman yang diadakan setiap empat tahun sekali sebagai bagian dari rehabilitasi pasca Perang Dunia II. Festival ini berfungsi untuk memetakan tema-tema kontemporer yang relevan, seperti meteor atau internet, memastikan bahwa pameran tetap relevan dengan perkembangan zaman dan memberikan refleksi terhadap isu-isu sosial kemasyarakatan. Kuratorial dalam konteks ini berfokus pada relevansi dan adaptasi dengan isu kontemporer.

Di Berlin Biennale, kurator diharuskan untuk berasal dari luar Berlin untuk memastikan perspektif yang objektif. Kurator melakukan riset selama setahun untuk menentukan tema festival. Malna mengungkapkan pengalamannya mengikuti Berlin Biennale dengan tema fotografi, yang sangat menginspirasinya. Ia juga mengamati hasil penelitian antropologis dari era Belanda, seperti riset dan lukisan Jung Hung tentang gunung-gunung di Jawa yang dipinjam dari Museum Leiden. dulu bukan karya seni, sekarang menjadi karya seni yang kaya informasi. Ini menunjukkan bahwa praktek riset dan estetika seni dapat berjalan seiring, memberikan informasi yang berharga dan memperkaya pemahaman tentang seni.

Sejak tahun 1992, Afrizal Malna mulai mengintegrasikan data dalam pertunjukan teaternya. Ia menjelaskan bahwa penggunaan data memberikan informasi yang lebih mendalam dibandingkan dengan kata-kata semata, terutama dalam konteks politik saat ini.

Loading...