Irianto Ibrahim pidato kebudayaan di Gedung Kesenian, Taman Budaya Sulawesi Tenggara
Jaringan Perempuan Pesisir Sulawesi Tenggara menggelar sebuah acara di Ruang Kesenian Taman Budaya Sulawesi Tenggara. Acara ini dilaksanakan atas kerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Dana Indonesiana, dan LPDP.
Doktor Irianto Ibrahim, Dosen Pascasarjana di Universitas Haluoleo Kendari membawakan pidato kebudayaan berjudul “Kembali ke Laut”.
Berikut pemaparannya:
Saya harus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Perempuan Pesisir Sulawesi Tenggara. Pertunjukan teater dan tarian tadi lebih dari sekadar pidato kebudayaan.
Saya diminta untuk berbicara tentang pemajuan kebudayaan di Sulawesi Tenggara dengan judul Kembali ke Laut.
Ada puisi dari Asrul Sani:
Laut lepas anakku sayang
pergi ke alam bebas
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
Menutup pintu waktu lampau.
Laut di sini menjadi tujuan, menjadi harapan, menjadi cita-cita, dan menjadi sesuatu yang bisa memberikan kekuatan lain, baik bagi mereka yang pergi menjajaki maupun bagi mereka yang menunggu.
Saya kira Perempuan Pesisir yang telah menginisiasi kegiatan ini memberikan ruang baru terhadap pemaknaan kita terhadap laut, sebagai bagian dari upaya menggali kebudayaan itu, sebagai sebuah inspirasi.
Kalau boleh saya berbicara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kita mengenal kata laut, maritim, dan bahari. Saya mengambil kata bahari, yang dahulu kala indah, elok sekali, dan berhubungan dengan laut. Itu adalah ketiga makna bahari: suatu kehidupan laut yang elok sekali zaman dahulu. Lalu, apakah zaman sekarang tidak seelok zaman dahulu? Apakah laut yang seperti sajak Ramdoni, juga membawa mayat terapung di sana? Atau seperti penampilan ibu-ibu tadi, betapa nikmat laut tanpa sampah plastik?
Selanjutnya, bisakah kita mengatakan laut sebagai sebuah metafora, dengan bahasa berbeda dengan tujuan tertentu. Kalau dalam diri kita, sesuatu yang berakar dalam diri kita, maka laut bisa menjadi representasi bagaimana membangun laut kita.
Dalam buku karya Ernest Hemingway (1952) berjudul The Old Man and the Sea (Lelaki Tua dan Laut), Ernest Hemingway membuat suatu perumpamaan tentang perempuan cantik dan laut. Katanya, laut seperti perempuan yang menahan pemberian, dan laki-laki yang sabar dan gigih. Kita semua tahu tokoh Santiago, memancing berhari-hari dan tidak mendapatkan hasil. Ketika mendapatkan, dia berburu dengan ikan hiu yang mengambil hasil tangkapannya. Namun, riwayat tokoh Santiago adalah orang yang gigih sejak awal dan menolak kalah.
Kalau kita kembali pada diri kita, berbicara untuk menggali kebudayaan kita sendiri, saya berbicara dalam hal berkarya dan menjadikan laut sebagai lumbung karya kita. Perempuan Pesisir telah memiliki tari tentang laut. Dayung sebagai simbolisme, kita tidak kekurangan inspirasi untuk berkarya.
Ini adalah karya foto Arif Oba, sebuat ritual, sebuah perpaduan pesona laut dan keyakinan. Ini adalah drama, puisi, dan prosa serta konsep tradisi lisan. Setiap orang adalah pemeran dalam peristiwa kebudayaan. Di saat yang sama, penonton bisa menjadi pelaku.
Saya menawarkan satu bagian, bagaimana cara membangkitkan sastra kepulauan. Tempo hari mendengar kata Wallacea dari beberapa seniman di Sulawesi Tenggara. Laut menghubungkan pulau-pulau kecil dan menjadi memori kolektif di antara kita.
Saya sebagai orang Buton, mengingat jembatan batu di Bau-Bau. Orang-orang dari Kabaena datang membawa gula, dari Taliabu dan dari mana-mana. Titik itu menginspirasi atau biasa disebut hubungan antara budaya.
Namun, faktanya pemandangan di sekitar kita seperti ini miris dan ironis, dipenuhi sampah. Bagaimana kalau kita bergeser ke Teluk Kendari? Tapi saya menikmati teluk ini, di luar segala hal, sebagai tempat berkarya yang paling luar biasa.
Ruang publik dan memori. Dari sini saya paham, apa yang tampak di permukaan memberi isyarat yang berbeda dengan siapapun yang melihatnya. Bangunan, monumen, atau bahkan lanskap, tidak hanya sekadar fisik, tetapi juga menyimpan sejarah, budaya, dan makna yang kompleks.
Saya mengambil gambar ini di Kota Lama, enam bulan lalu. Gambar yang berjudul monumen yang ditawan. Gedung-gedung itu, ketika jembatan sudah selesai, tidak dirobohkan sekaligus. Secara estetis tidak menarik, atau jangan-jangan memberikan peringatan. Kalau kamu main-main dengan saya, pengabaian, itu sakit. Ada tetapi dianggap tidak ada.
Yang muncul adalah kenangan-kenangan ini. Menjadi memori kolektif dengan hal yang sama tetapi pengalaman yang berbeda.
Kita pernah membuat Gerakan Kota Lama yang digagas Arif Oba, Saifuddin Gani, dan kawan-kawan. Saya memaknainya, mengambil sebanyak-banyaknya sebagai bahan untuk memicu kreativitas yang lain.
Dan ini adalah laporan Saifuddin Gani tentang laporan terkait Kota Lama. Papalimbang dalam sajak Ramdoni tergantikan di Kota Lama.
Sebuah gagasan yang bisa diperdebatkan. Ajakan kembali ke laut, ajakan untuk kembali kepada diri kita sendiri.