23 Agustus 2024

Peran Sentral Perempuan dalam Pemajuan Kebudayaan Sulawesi Tenggara

Peserta simposium kebudayaan Sulawesi Tenggara di Aula Fakultas Ilmu Budaya Haluoleo Kendari (22/08)

Kendari, 22 Agustus 2024 — Dalam upaya melestarikan dan memajukan kekayaan budaya Sulawesi Tenggara, sebuah Simposium Kebudayaan digelar di Aula Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Haluoleo (UHO), hasil kerjasama antara akademisi UHO dan Jaringan Perempuan Pesisir Sulawesi Tenggara. Acara yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Dirjen Kebudayaan, Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Simposium ini menjadi wadah bagi para akademisi untuk berdiskusi tentang peran perempuan dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan di Sulawesi Tenggara. Para pembicara yang hadir, baik dari kalangan akademisi maupun praktisi budaya, mengupas tantangan dan peluang yang dihadapi perempuan dalam konteks pemajuan kebudayaan di Sulawesi Tenggara

Peran Perempuan dalam Pemajuan Kebudayaan

Dr. Syahrun, S.Pd., M.Si, sebagai pembicara pertama mendefinisikan kebudayaan sebagai hasil dari cipta, karya, dan karsa manusia yang tak terpisahkan dari peran aktif perempuan, terutama dalam berbagai kegiatan budaya seperti upacara perkawinan, lagu daerah, hingga ritual adat.

Di tengah kemajuan zaman, pemajuan kebudayaan menjadi tanggung jawab bersama. “Pemajuan kebudayaan adalah upaya melestarikan, mengembangkan, dan mempromosikan nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat,” jelas Dr. Syahrun. Dalam hal ini, perempuan memiliki posisi penting dalam memastikan bahwa kebudayaan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan dikenal luas.i-l

Di Benteng Keraton Buton, contohnya, perempuan memiliki peran kunci dalam tradisi komunitas. Para ibu di wilayah ini dikenal sebagai pembuat obat tradisional “Lansau,” yang terbuat dari bahan alami seperti akar, kulit pohon, dan dedaunan. Keahlian ini tidak hanya memperkaya budaya lokal tetapi juga menunjukkan betapa pentingnya peran perempuan dalam menjaga warisan leluhur.

Namun, upaya pemajuan kebudayaan tidak lepas dari berbagai tantangan. Dr. Syahrun menyoroti hambatan sosial budaya dan ekonomi sebagai masalah mendasar yang harus dihadapi. Hambatan-hambatan ini sering kali menghambat proses pelestarian dan pengembangan budaya, terutama di daerah-daerah terpencil seperti Sulawesi Tenggara.

Meski demikian, peluang untuk memberdayakan perempuan dalam pemajuan kebudayaan tetap terbuka lebar. “Peningkatan kesadaran dalam masyarakat, serta dukungan langsung dari pemerintah, sangat penting untuk mendorong pemajuan kebudayaan,” ujar Dr. Syahrun. Dengan strategi yang tepat, perempuan dapat menjadi motor penggerak dalam menjaga, mengembangkan, dan mempromosikan kebudayaan di Sulawesi Tenggara, memastikan bahwa tradisi dan adat istiadat tetap hidup dan relevan di tengah arus globalisasi.

Peran perempuan dalam kebudayaan tidak hanya menunjukkan ketahanan budaya lokal, tetapi juga membuka jalan bagi generasi muda untuk terus melestarikan warisan ini. Dengan dukungan yang kuat dari semua pihak, kebudayaan di Sulawesi Tenggara akan terus berkembang dan menjadi kebanggaan yang bisa diwariskan kepada anak cucu.

Foto bersama akademisi yang terlibat dalam Simposium Kebudayaan Sulawesi Tenggara (22/08)

Potret perempuan pesisir dalam pandangan sastra lisan feminisme kultural

Dr. Uniawati, S.Pd., M.Hum., seorang akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Haluoleo Kendari yang mendalami sastra lisan dan feminisme kultural, menyoroti bagaimana perempuan pesisir sering digambarkan dalam cerita rakyat dengan simbol-simbol yang menyiratkan perjuangan mereka melawan dominasi lakaki.

Sastra lisan di Sulawesi Tenggara, yang diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi cerminan kuat dari realitas sosial yang dialami perempuan. Kisah-kisah ini, yang disampaikan dalam bentuk pantun, mantra, dan cerita rakyat, mengandung lapisan-lapisan makna yang kaya. Tokoh-tokoh perempuan yang muncul dalam cerita-cerita ini sering kali dihadirkan dalam wujud yang penuh simbolisme, mencerminkan kondisi dan tantangan yang mereka hadapi.

Salah satu contoh adalah cerita Wa Ndiu-Ndiu, yang sangat dikenal di kalangan suku Buton dan Muna. Cerita ini menggambarkan seorang nenek atau ibu yang berubah menjadi putri duyung atau manusia setengah ikan. Transformasi ini terjadi setelah perempuan tersebut merasa aib, sehingga ia memilih untuk meninggalkan lingkungannya. “Kepergian Wa Ndiu-Ndiu adalah simbol dari penyingkiran perempuan oleh masyarakat patriarki, yang memaksa mereka keluar dari lingkungan yang didominasi oleh laki-laki,” jelas Dr. Uniawati.

Cerita lainnya, Embu, mengisahkan seorang perempuan yang melahirkan seekor gurita, makhluk laut yang ditakuti dan dihormati dalam kepercayaan masyarakat pesisir suku Buton. Embu mencerminkan bagaimana perempuan sering kali dihubungkan dengan kekuatan alam yang misterius dan menakutkan, yang secara simbolis menggambarkan posisi mereka di masyarakat yang masih patriarkal.

Namun, tidak semua cerita rakyat mengisahkan perempuan dalam konteks penyingkiran atau penakutan. Cerita Wakaka, misalnya, memberikan pandangan berbeda. Wakaka mengisahkan seorang perempuan yang menakhodai kapal, menunjukkan kecerdasan dan keberanian untuk melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh laki-laki. Dalam pandangan feminisme kultural, cerita ini menarik karena menggambarkan perempuan yang cerdas dan berani mengambil alih peran yang didominasi laki-laki, meskipun harus menyamar sebagai laki-laki agar diterima oleh masyarakat patriarki.

Cerita-cerita rakyat ini, menurut Dr. Uniawati, tidak hanya menggambarkan posisi perempuan dalam masyarakat, tetapi juga berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan dan memperkuat struktur sosial yang ada. Dalam dua cerita pertama, perempuan digambarkan sebagai makhluk yang dikucilkan atau ditakuti, menandakan upaya patriarki untuk mengurangi peran mereka. Namun, dalam cerita Wakaka, perempuan digambarkan sebagai sosok yang mampu melampaui batas-batas yang ditetapkan oleh masyarakat, meskipun dengan cara yang tersembunyi.

“Penggambaran perempuan dalam bentuk binatang dalam cerita rakyat adalah simbol dari bagaimana patriarki berusaha menyingkirkan peran perempuan secara halus,” kata Dr. Uniawati. “Namun, cerita seperti Wakaka menunjukkan bahwa di balik penyingkiran ini, ada perlawanan yang cerdas dan tersembunyi dari perempuan.”

Sastra lisan di Sulawesi Tenggara, dengan tokoh-tokoh perempuannya yang kompleks dan penuh simbolisme, menawarkan wawasan mendalam tentang dinamika gender di wilayah pesisir. Melalui lensa feminisme kultural, kita dapat melihat bagaimana perempuan pesisir tidak hanya menjadi objek dari cerita, tetapi juga subjek yang berperan aktif dalam narasi budaya mereka, meskipun harus melawan arus patriarki yang kuat.

Kuliner Haroa dan Peran Perempuan Muna: Menjaga Tradisi di Tengah Tantangan Zaman

Di tengah laju modernisasi yang semakin pesat, tradisi Haroa, tetap menjadi bagian penting dari kebudayaan masyarakat suku Muna. Ritual ini, yang juga dipraktikkan oleh masyarakat suku Buton, bukan hanya sekadar kegiatan spiritual, tetapi juga merupakan warisan leluhur yang kaya dengan nilai-nilai budaya. Namun, salah satu aspek paling menonjol dari tradisi ini adalah peran perempuan Muna dalam mengelola kuliner Haroa, sebuah tugas yang kian menghadapi tantangan di era sekarang.

Dr. Rahmat Sewa Suraya, S.Sos., M.Si, seorang ahli kebudayaan Muna, menyoroti bagaimana kuliner Haroa menjadi identitas kuat dalam tradisi ini. “Dalam pelaksanaan Haroa, kuliner tradisional menjadi bagian kunci dari ritual tersebut,” jelasnya. Makanan tradisional seperti waje, cucur, dan lapa-lapa tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi juga esensi dari Haroa itu sendiri. Tanpa kehadiran kuliner yang lengkap, ritual ini tidak akan berjalan dengan sempurna.

Peran perempuan dalam penyajian kuliner Haroa sangatlah penting. Dari mulai mempersiapkan bahan hingga menyajikannya, perempuan Muna mengemban tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa setiap detail kuliner tradisional sesuai dengan standar leluhur. “Pelaksanaan Haroa biasanya hanya bisa dilakukan oleh perempuan, karena kompleksitas dan detail yang diperlukan dalam penyajian kuliner ini cukup menguras tenaga,” tambah Dr. Rahmat. Menariknya, keterlibatan laki-laki dalam tugas ini hampir tidak pernah terjadi, menunjukkan bagaimana kuliner Haroa telah menjadi domain yang secara tradisional dikuasai oleh perempuan.

Namun, tradisi Haroa ini tidak terlepas dari tantangan. Seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup, minat generasi muda, terutama perempuan, terhadap tradisi ini semakin menurun. Banyak dari mereka menganggap Haroa sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan dengan kehidupan modern. “Generasi saat ini sering kali menganggap pelaksanaan Haroa sebagai sesuatu yang kampungan,” ungkap Dr. Rahmat. Persepsi ini mendorong penurunan partisipasi perempuan dalam mengelola kuliner Haroa, dan menjadi ancaman bagi keberlanjutan tradisi ini.

Selain itu, proses penyajian kuliner Haroa yang dianggap panjang dan rumit juga menjadi alasan mengapa banyak perempuan muda enggan terlibat. Mereka merasa bahwa pelaksanaan tradisi ini membutuhkan terlalu banyak waktu dan tenaga, sesuatu yang tidak sejalan dengan gaya hidup mereka yang serba cepat dan praktis.

Namun, di balik tantangan-tantangan ini, ada peluang besar untuk memajukan kebudayaan Muna. Menurut Dr. Rahmat, dengan pemanfaatan teknologi dan pendekatan yang lebih modern, tradisi Haroa bisa tetap relevan dan menarik bagi generasi muda. “Penting untuk mengenalkan kembali nilai-nilai budaya ini dengan cara yang sesuai dengan zaman, mungkin melalui media sosial atau program pendidikan budaya yang menarik,” sarannya. Dengan demikian, perempuan Muna bisa terus memainkan peran penting dalam menjaga dan mengembangkan tradisi Haroa.

Mempertahankan tradisi Haroa bukan hanya tentang melestarikan sebuah ritual, tetapi juga tentang menjaga identitas budaya dan peran perempuan dalam masyarakat Muna. Tantangan yang dihadapi saat ini memerlukan strategi yang inovatif dan kesadaran kolektif untuk memastikan bahwa tradisi ini tetap hidup dan berkembang di tengah arus perubahan zaman.

Peran Sentral Perempuan Lokal dalam Pemajuan Kebudayaan Sulawesi Tenggara: Menjaga Warisan di Tengah Perubahan

Dr. Rasiah, S.Pd., M.Hum, seorang pakar kebudayaan, menekankan bahwa peran perempuan lokal dalam menjaga dan memajukan kebudayaan di wilayah ini sangatlah vital, meskipun tanggung jawab tersebut tidak hanya terbatas pada mereka.

“Kebudayaan yang ada di Sulawesi Tenggara merupakan kekayaan yang harus disyukuri dan dijadikan kebanggaan bersama,” ujar Dr. Rasiah. Beliau mengingatkan bahwa kekayaan budaya ini tidak hanya menjadi cerminan dari sejarah dan identitas masyarakat, tetapi juga menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan zaman. Namun, mempertahankan kebudayaan di tengah perkembangan zaman yang terus berubah memerlukan strategi yang bijaksana. “Kita tidak bisa menghindar atau menolak perkembangan zaman, tetapi perlu memberikan perhatian khusus agar kebudayaan kita tetap lestari,” tambahnya.

Peran perempuan lokal dalam merawat kebudayaan memiliki nilai yang sangat penting. Mereka sering kali menjadi penjaga tradisi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat dan ritual. Namun, Dr. Rasiah menekankan bahwa tanggung jawab ini tidak berarti perempuan harus menggantikan semua peran laki-laki dalam kebudayaan. “Peran perempuan lokal sangat dibutuhkan dalam merawat kebudayaan, tetapi bukan berarti harus menggantikan peran laki-laki,” jelasnya. Di sini, sinergi antara perempuan dan laki-laki menjadi kunci dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan berkembang.

Menurut Dr. Rasiah, pemajuan kebudayaan bukan hanya tentang pelestarian, tetapi juga tentang bagaimana budaya tersebut dapat berkontribusi dalam pembangunan nasional. “Pemajuan kebudayaan adalah upaya mempertahankan dan mendorong haluan pembangunan nasional,” tegasnya. Dalam konteks ini, peran perempuan lokal sangat krusial karena mereka tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga berperan aktif dalam mentransformasikan budaya agar sesuai dengan kebutuhan zaman, tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Melalui pendekatan yang inklusif dan kolaboratif, perempuan lokal di Sulawesi Tenggara dapat menjadi penggerak utama dalam pemajuan kebudayaan. Namun, keberhasilan upaya ini memerlukan dukungan dan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk laki-laki. Dr. Rasiah mengajak semua pihak untuk melihat pemajuan kebudayaan sebagai tanggung jawab moral bersama, sebuah upaya kolektif untuk menjaga identitas dan kebanggaan daerah di tengah perubahan global.

Dengan sinergi yang baik antara perempuan dan laki-laki, serta perhatian khusus terhadap dinamika zaman, kebudayaan Sulawesi Tenggara dapat terus berkembang dan berkontribusi pada pembangunan nasional, menjadikannya sebuah warisan yang tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dimajukan untuk generasi mendatang.

Loading...